Mengenal Batik Semarang

 Goodnews,  02-10-2017 17:42:00

  

Batik beberapa tahun terakhir masih menjadi topik yang cukup menyenangkan, berbicara batik dimasa sekarang, pikiran kita tidak  langsung tertuju pada golongan usia tertentu, kalangan pejabat atau acara resmi. Saat ini hampir semua perancang busana, menyentuh batik sebagai sasaran materi untuk setiap kreasi mereka, demi menjawab kebutuhan pelanggan.

Ditetapkannya tanggal 2 Oktober 2009 menjadi Hari Batik Nasional oleh UNESCO, sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Sejak saat itu, bangsa Indonesia memperingatinya sebagai Hari Batik Nasional yang dikuatkan dengan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.

Warna batik yang semula hanya didominasi oleh warna hitam dan cokelat, dulu hanya digunakan oleh para pejabat, para orang tua, dalam acara-acara resmi. Sempat hampir ditinggalkan oleh masyarakat, termasuk generasi muda. Hingga akhirnya, batik hampir saja diklaim oleh Malaysia.

Saat itulah seolah masyarakat menjadi tersadar, bahwa batik adalah warisan leluhur yang harus dilestarikan. Menghadapi persoalan itu, Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam.

Tahun 2008, pemerintah mendaftarkan batik ke dalam jajaran daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO.

Setelah diterima secara resmi pada 9 Januari 2009, beberapa bulan kemudian, tepatnya  pada 2 Oktober 2009, UNESCO mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Batik berhasil diakui dunia internasional sebagai warisan budaya asli Indonesia, di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tan Kong Tien seorang putera tuan tanah Tan Siauw Liem, yang merupakan salah seorang menantu Sri Sultan Hamengkubuwono III.

Tan Kong Tien memiliki keahlian membatik yang ditularkan dari isterinya RA Dinartiningsih dengan ulet dan gigihnya dia bisa mengembangkan usahanya dan mempunyai perusahaan yang bernama Batikkerij Tan Kong Tien mendapatkan hak atas monopoli batik di Jawa Tengah dan perusahannya ini kemudian diteruskan oleh Petrinya yang bernama R.Ng. Sri Murdijanti hingga tahun 1970.

Dari dokumen Pemerintahan Kolonial Belanda, pada tahun 1919 – 1925 sentra batik di Semarang sangat berkembang, faktor krisis yang menyebabkan sulitnya bahan sandang juga faktor penyebab perkembangannya begitu cepat.

Yang lebih unik lagi, para pengrajin Batik Semarangan tidak pernah membakukan motif batik karyanya, tidak seperti pengrajin kota Solo, Joga dan Pekalongan. Sebagai Masyarakat yang tinggal di Pesisir Utara pulau jawa, sudah menjadi kebiasaan untuk membatik dengan motif naturalis. Berbeda dengan pembatik dari Jogja, Solo dan Pekalongan yang memiliki motif Batik pakem dari Kraton.

Produk yang dihasilkan oleh pengrajin Batik Semarangan berupa : selendang, dasi dan topi. Dan hingga kini belum dikenal proses cap atau printing untuk pembuatan Batik Semarangan ini.

Semarang merupakan daerah pelabuhan dan salah satu pusat investasi industri terbesar di Indonesia. Semarang sering disinggahi bangsa dan budaya luar, sehingga banyak akulturasi budaya terjadi. Dalam bidang batik, banyak yang mengira bahwa Semarang merupakan sentra batik di Jawa Tengah. Namun sampai saat ini belum ada yang menunjukkan Semarang memiliki tradisi batik, apalagi memiliki motif dan pakem yang jelas.

Semarang menjadi wilayah perbatikan kurang banyak disebut, kemungkinan karena di wilayah tersebut jumlah produsen batik relative kecil ketika meningkatnya pengusaha batik Indo-Eropa dan Cina peranakan. Hal itu begitu berbeda bila dibandingkan dengan wilayah pekalongan.

KARAKTERISTIK

Ciri khas batik Semarang lebih menonjolkan warna terang. Di samping bermotif kontemporer yang mengambil ikon-ikon kota Semarang, seperti Tugu Muda dan Lawang Sewu. Atau pun motif asli dari batik Semarang itu sendiri, yakni pohon asam. Sebagaimana mengilhami nama kotanya: asem arang (pohon asem yang letak pohonnya jarang-jarang-).

NILAI FILOSOFI

SidoLuhur

Motif satu ini biasanya dipakai oleh pengantin saat resepsi atau upacara pernikahannya. Dengan motif dasar seperti wajik, batik satu ini memang memiliki kemewahan tersendiri. Tidak hanya cantik, batik Sido luhur memiliki filosofi yang dalam. Saat pengantin menggunakan batik bermotif sido luhur ini diharapkan mereka akan berbudi luhur dan menjadi pasangan suami istri yang bermartabat.

SidoMulyo

Hampir sama dengan sido luhur, motif dasar batik ini adalah wajik. Namun detil dan warnanya lebih muda. Filosofi dari batik motif sido mulyo adalah harapan agar keluarga yang dibina akan terus menerus mendapat kemuliaan meskipun mendapat suatu kesulitan. Bahasa Indonesia dari kata mulyo adalah mulia.

SekarJagad

Motif batik Sekar Jagad lebih kompleks dan berwarna-warni. Batik ini cocok digunakan oleh wanita yang menyukai fashion dan sentuhan colourful dalam baju yang digunakannya. Motif dasar dari batik Sekar Jagad adalah berupa ornamen aneka bunga dan tanaman yang tumbuh di seluruh dunia, tersusun di dalam bentuk-bentuk elips.

Seperti warna warninya yang ceria, batik ini memiliki filosofi kebahagiaan dan kegembiraan. Bila Anda akan melangsungkan acara syukuran atau akan diwisuda, batik motif Sekar Jagad cocok dipakai untuk mengekspresikan kebahagiaan Anda.

Parang

Sederhana, seperti itulah gambaran dari batik parang. Dibuat di atas kain berwarna putih, batik parang didominasi warna cokelat dan krem. Motifnya tidak banyak ornamen, sederhana dan membumi. Batik parang ini memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah, ibarat ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik Parang juga menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga yang juga melambangkan ketajaman berpikir dan kepemimpinan.

Motif parang termasuk ragam hias larangan, artinya hanya raja dan kerabatnya diijinkan memakai. Besar kecilnya motif parang juga menyimbolkan status sosial pemakainya di dalam lingkungan kerajaan. Ukuran motif parang pun diatur karena motif ini termasuk salah satu motif yang dibuat secara khusus.

UdanRiris

Hujan, dimaknai sebagai rezeki. Air yang jatuh dari langit, mengaliri sungai-sungai, parit-parit di sawah, sumur di rumah-rumah. Udan dalam bahasa Indonesia berarti hujan, dan makna dari batik dengan motif asimetris ini adalah rezeki yang mengalir tiada henti. Orang-orang biasanya menggunakan batik motif ini saat sedang panen raya, mendapatkan banyak rezeki dan momen-momen bahagia lainnya.

MOTIF BATIK SEMARANG

Robyn Maxwell, seorang peneliti tekstil di Asia Tenggara, menjumpai sebuah sarung di Tropenmuseum Amsterdam yang di buat di Semarang. Dalam bukunya Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade and Transformation (2003:386), Maxwell menyebut sebuah kain produksi Semarang berukuran 106,5×110 cm yang terbuat dari bahan katun dengan dekorasi dari warna alam memiliki motif yang sangat berbeda dengan motif Surakarta atau Yogyakarta.

Pepin Van Roojen, menemukan beberapa jenis batik dari Semarang seperti yang ditulis dalam bukunya berjudul Batik Design (2001:84). Ada kain sarung yang dibuat pada akhir abad ke-19 di Semarang. Sarung itu memiliki papan dan tumpal dengan ornament berupa bhuta atau sejenis daun pinus runcing asal Kashmir. Motif badannya berupa ceplok. Ini menunjukkan meskipun secara spesifik batik Jawa Tengah yang diwakili Surakarta dan Yogyakarta berbeda dengan batik pesisir, Semarang termasuk di dalamnya, namun pola-pola baku tetap pula dipakai seperti ditunjukkan pada pola ceplok itu.

Peneliti batik lain, menegaskan batik semarang dalam beberapa hal memperlihatkan gaya laseman karakter utama laseman berupa warna merah (bangbangan) dengan latar belakang gading (kuning keputih-putihan). Lee Chor Lin (2007:65) mengatakan laseman dengan cirri bangbangan mempengaruhi kreasi batik di beberapa tempat di pesisir utara lainnya seperti Tuban, Surabaya dan Semarang.

Maria Wonska-Friend yang mengkaji koleksi batik milik Rudolf G Smend (Smend et al, 2006:53) menyebutkan ciri pola batik Semarang berupa floral, yang dalam banyak hal serupa dengan pola Laseman. Tidak heran pada koleksi tersebut banyak sekali kain batik dari abad ke-20 yang disebut batik Lasem atau Semarang. Maksudnya, batik-batik tersebut tidak secara spesifik disebut sebagai kreasi satu kota misalnya batik Lasem saja atau batik Semarang saja.

BATIK SEMARANG

Franquemont dan Oosterom

Batik Franquemont memiliki warna beragam dengan warna hijau sebagai kekhasan dan memiliki pola-pola bermotif Eropa, Cina dan pesisir utara khususnya Madura dan pola dari keraton. Franquemont juga mengambil figure-figur dan atribut dari berbagai dongeng Eropa yang ditampilkan berulang pada badan kain batik.

Batik Oosterom cirinya memiliki pola yang rumit salah satu kreasinya dengan motif pola sirkus yang menggambarkan penunggang kuda, orang berdansa, bangunan mirip kastil, pohon palma, dilengkapi dedaunan dan burung mirip phoenix.

 

Tan Kong Tien

Motif-motif batik dari “Batikkerij Tan Kong Tien” merupakan hasil akulturasi motif pesisiran yang berkarakter terbuka dan motif keraton. Contoh motif dasar parang yang merupakan motif batik keraton, seringkali dipadu dengan motif burung merak.

 

Neni Asmarayani

Neni membuka galeri batik pada tahun 1970-an di Semarang dan melibatkan beberapa pelukis dan seniman ternama dalam penciptaan desain. Ada dua motif nuansa Semarang yang diciptakan yaitu Warak Ngendog dan Pandan Arang. Namun usaha pembatikan ini kemudian tidak berlanjut.

 

Batik Sri Retno

Keunikan batik Sri Retno adalah inovasi yang dilakukan dalam hal motif karena bertempat produksi di Semarang, jejak-jejak kekhasan kota tersebut juga menjadi sumber explorasi penciptaan motif batiknya. Namun sangat disayangkan perusahaan yang sebenarnya telah punya pasar dan popular sebagai pencipta batik dengan motif khas itu beroperasi tidak sampai satu decade.

 

Batik Semarang 16

Setelah sekian lama vakum pada tahun 2005, Umi. S. Adi Susilo aktif menghidupkan kembali aktivitas perbatikan. Selain banyak mengadakan pelatihan batik juga membentuk perusahaan kerajinan Batik Semarang 16. Ratusan motif telah dihasilkan Batik Semarang 16 terutama motif-motif baru yang berhubungan dengan landmark kota Semarang seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, Pohon Asem, Blekok Srondol dan banyak lagi. 11 motifnya telah dipantenkan di HAKI.

 

Kampung Batik

Merupakan sentra batik di Semarang yang pernah mengalami kejayaan pada zaman Belanda. Tak hanya Kampung Batik yang merupakan tempat perajin batik, tetapi juga Bugangan, Rejosari, Kulitan, Kampung Melayu, dan Kampung Darat, yang notabene adalah kampung-kampung yang terletak di sekitar pusat Kota Semarang tempo dulu. Berdasarkan penelitian Dr Dewi Yuliati MA dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Undip Umumnya orang Semarang tempo dulu membatik dengan motif naturalis (ikan, kupu-kupu, bunga, pohon, bukit, dan rumah), tidak simbolis seperti batik-batik di Surakarta dan Yogyakarta. Motif naturalis menjadi ciri khas batik yang diproduksi oleh masyarakat pesisir utara Jawa. Ciri itu dapat dimaknai sebagai karakter masyarakat pesisir, yang lebih terbuka dan ekspresionis jika dibandingkan dengan masyarakat di Surakarta dan Yogyakarta, yang lebih dilingkupi oleh sistem simbol, norma-norma, dan aturan-aturan di bawah kekuasaan raja.

 

Desa Gemawang

Berdasarkan literatur, sejak jaman Hindia Belanda di wilayah ini memang telah ada industri batik. Setelah Gunung Ungaran meletus hebat sekitar tahun 1800-an, kerajinan batik lalu menyebar ke berbagai wilayah. Batik Gemawang mulai bangkit pada tahun 2005, setelah diadakan pelatihan membatik. Batik ini mempunyai ciri khas unsur batik kopi, tala madu dan baruklinting. Sedangkan pewarnaan utama menggunakan indigo (indigofera).

 

LOKA Batik by Hanna Lestari

LOKA Batik adalah sebuah label dan gallery untuk kreasi produk fashion dan culturalcreative product dengan motif batik semarang khususnya dan Jawa Tengah umumnya. LOKA Batik menjalin kerjasama dengan para pengrajin untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan bercita rasa seni tinggi. Dengan menggunakan e-commerce sebagai salah satu media pemasarannya diharapkan Batik Semarang khususnya dan batik di Jawa Tengah umumnya dapat dikenal lebih luas baik dalam negeri maupun mancanegara.

 

Dalam perkembangannya, batik telah menjadi bagian sehari-hari kehidupan masyarakat Indonesia. Model, corak, warna dan kombinasi juga sudah beragam, mengikuti tren fashion kekinian.

Jika dulu warna batik hanya identik dengan coklat dan hitam, kini berbagai kombinasi warna-warna lain seperti ungu, merah, hijau hingga kuning, dan berbagai warna cerah sudah dapat dengan mudah ditemui. Kombinasi bahan denim dan bahan-bahan lain juga banyak dijumpai di masyarakat. Batik tidak lagi identik dengan acara resmi tapi juga acara santai.

 

Pengrajin batik selalu muncul disetiap pameran yang diadakan oleh UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) baik yang bernaung dibawah BUMN maupun pemerintah, saat ini tidak berbatas didaerah tertentu, tapi juga di selenggarakan di beberapa mall kota besar, bahkan secara periodik merambah ke pameran manca negara.

Beberapa perancang juga sudah banyak dijumpai bekerjasama dengan mall dan hotel ternama di berbagai kota besar di Indonesia.

sumber : buku dan literatur

Komentar

Counting


LATEST TUNE-IN